| Main Menu |
|---|
| Jadi Teknisi Musik+Drumer |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Tuesday, 30 November 1999 00:00 |
|
Ketika SMA, aku sudah tidak pernah lagi mulung. Malu, ga juga, tapi emang sih, dikit tapi. Suatu ketika aku pernah ditinggal dengan saudara perempuan ku di rumah, sedangkan umak dan ayahku pergi ke rumah kakakku di jakarta. Aku ditinggal selama 2 bulan. Waktu itu merupakan saat – saat yang sulit buat ku. Hampir tiap pagi aku tidak pernah sarapan dan tidak punya uang jajan. Untung saja teman sekampungku Andri, omnya punya orkes melayu bernama Mustika, yang biasanya hampir setiap bulan ada 5 atau 6 kali orkesnya diundang untuk memeriahkan selamatan keluarga. Yang paling banyak adalah acara resepsi pernikahan.
Kebetulan orkes tersebut membutuhkan beberapa tukang angkat barang – barangnya. Seperti speaker yang ada 4-6 buah speakernya hanya bisa diangkat oleh 2-4 orang, sekaligus untuk menyiapkan peralatan musik, seperti menyusun drum, menyetel gitar, dan alat – alat musik, memasang kabel-kabel untuk speaker dan lainnya. Itu kami kerjakan hanya dengan 5-6 orang waktu itu. Tapi dari situ pula aku bisa memainkan semua alat musik band. Itu semua diajarkan oleh Andri padaku. Ketika hendak menyetel gitar, menabuh drum, mencocokkan nada bass dan keyboard. Bahkan tidak jarang kami yang memulai pembukaan acara orkes karena para pemain musik yang datang terlambat atau minta digantikan posisinya sementar. Teman ku yang satu ini memang sangat berbakat dalam bermain musik. Dan memang ayahnya pun seorang pemain musik top dijamannya. Sampai suatu ketika ada undangan untuk orkes, dan semua tukang angkat barang sudah harus berkumpul di tempat orkes jam 3 sore. Dan itu pada hari sekolah. Tak ayal lagi ketika pulang sekolah jam setengah 2, aku langsung pulang dengan berlari kerumah. Yang kalau berjalan kaki, aku biasanya 1/2-1 jam perjalanan. Tapi dengan berlari aku bisa sampai rumah hanya 15 menit saja. Sesampainya di rumah aku langsung ganti baju dan langsung menuju tempat “kerja”. Huh, bertemu bos baru, yang tidak lain adalah pak Muis, omnya temanku Andri, suami dari kakak ibunya. waktu itu tidak ada yang mengetahui kegembiraanku akan senangnya bergabung di orkes. Walaupun hanya dengan bayaran Rp. 7500/ malam, itu adalah pengalaman ku yang kedua, mencari uang saat SMA. Orkes melayu dimulai pada pukul 7. dan selesai pada pukul 11 malam. Setelah orkes selesai, giliran kami untuk mengemasi peralatan musik. Biasanya mengemasi alat - alat itu memakan waktu 1-2 jam. Jadi bisa dikira-kira kami baru bisa pulang ke rumah jam 2 malam. Sedangkan besoknya aku harus sekolah lagi. Upah semalam, aku dapatkan Rp.7500. Uh, benar – benar perjuangan hidup. Bayangkan saja, semalam aku hanya tidur 3 jam. Jam 5 sudah harus bangun shalat shubuh. Dan jam 6 sudah harus berangkat sekolah. Lewat dari jam 6 berangkat sekolah, siap – siap saja untuk lari keliling lapangan upacara 10 kali karena terlambat. Terlambat mulai menjadi kebiasaanku saat itu. Lari keliling lapangan hampir seminggu sekali menjadi sarapan pagi. Anak seumuranku mungkin tidak ada yang sanggup istirahat hanya 3 jam sehari. Di sekolah yang aku rasakan hanyalah mengantuk. Pelajaran yang diajarkan guru – guru tidak ada yang nyambung denganku. Yang aku lakukan hanya menguap saja. Akhirnya aku putuskan untuk berhenti ikut orkes. Dan akupun naik kelas 2 SMA. di kelas 2, aku bertekad nilai ku harus baik. Walaupun aku tidak mungkin mendapatkan juara, karena ada siswa yang aku merasa tidak mungkin untuk mengalahkannya. Di kelas 2 aku pikir bisa mendapatkan nilai yang lebih baik dari kelas 1, tapi ternyata sama saja. Saat itu aku sering ikut festival band di kota Tanjong Pandan bersama – sama dengan guru musik pribadiku Andri. kadang untuk persiapan festival itu, kami hampir tiap hari sewa gratis alat musik orkes. Karena Lead gitarnya keponakan yang punya orkes. Dan pak Muis sendiri mendukung kami. Walaupun mungkin hati kecilnya berkata, “waduh bayar listrik naik nanti berapa ya?”. Terima kasih bos, hanya itulah yang bisa kami ucapkan setiap selesai nge-band. Di kelas 3, lagi – lagi aku mengalami kesulitan masalah keuangan, selama 1 bulan, umak menyisihkan 10rb untuk uang jajan. Sedangkan saat itu aku minimal jajan disekolah 1000 rupiah sehari. Es Rp.500 dan roti Rp.500. uang jajanku hanya cukup bertahan 10 hari, 20 harinya, aku kelaparan sendiri di sekolah. Setiap jam istirahat, yang aku lakukan hanya duduk sendirian di depan kelas, sedangkan teman-teman yang lain langsung menuju kantin sekolah. Aku berpikir tidak harus seperti ini, akhirnya aku memutuskan untuk bergabung lagi di orkes. Saat itu aku sudah memiliki kemampuan bermain drum yang lumayan. Bahkan setiap kali orkes diundang di acara pernikahan, setiap kali itu pula, aku kadang disuruh menggantikan satu atau dua buah lagu sebagai pemain drumnya. Yang aku bawakan biasanya lagu dangdut, karena orkes kami, khusus membawakan lagu – lagu dangdut saja. Aku dan Andri mengajukan ke omnya agar setiap kali musiknya di undang, kami diperbolehkan membawa lagu rock. Dan itu disetujui. Senang bukan main, kami bisa membawakan lagu kesukaan kami sendiri. Sampai – sampai ketika kami “show”, guruku di sekolah, yang tadinya galak sekali padaku, ketika melihat aku malam itu tampil bermain drum di panggung, jadi sedikit mengurangi galaknya kepadaku dan ketika di kelas, dia sempat menyindir, “boleh bermain musik, tapi harus bisa mengatur waktu untuk belajar”. |
| Polling |
|---|


