| Main Menu |
|---|
| The Killer Mathematics Teacher |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Tuesday, 30 November 1999 00:00 |
|
“Hardiansyah…!!!, maju ke depan. kerjakan soal nomor 2.”.Wuzzzsss, Prakkk, aku kaget bukan kepalang ketika disuruh maju ke papan tulis untuk mengerjakan soal. “Baik Pak”. secepat kilat aku langsung balik badan ke siswa yang duduk di bangku tepat dibelakangku. “Woi la uda ke?, aku dak pandai ini? tulong beh…!, “kataku. Dalam hati “waduh gawat nih”. maju, kalau ga bisa, pasti dipukul. Ga maju, apalagi, pasti lebih parah pukulannya. mau ga mau aku memberanikan diri untuk maju kedepan. “akar kuadrat dari X2-3x-4=berapa ya?”. sedikitpun aku tidak mengerti dengan akar kuadrat dan sejenisnya ketika itu. uchh..bodohnya aku. “Bisa ga?”, tanya guru matematika itu. Aku diam seribu bahasa, sedikit bergaya sedang menghitung perkalian di papan tulis menggunakan kapur putih. “3×4, “sreeeett sedikit menggaris untuk membatasi hasil perkalian itu. “12?. Aku seperti sedang bicara sendiri, sambil mengukir huruf-huruf kecil di papan tulis, tanda sedang menghitung soal yang dikerjakan. “Bisa ga?”, tanya dia lagi. Aku tidak mampu menjawab, karena sudah ketakutan duluan. “Plaaakkk”, tiba-tiba saja, sebuah buku dengan prediksi ketebalan sekitar 300-350 halaman itu mendarat di kepala bagian belakangku. “Bodoh, goblok, masa soal begituan aja ga bisa kamu..!!!, ” suasana kelas jadi hening seketika. “udah duduk sana!”. “iya Pak”. jawabku. Dalam hati “gw hajar juga nih guru”. tapi sayangnya aku tidak punya nyali untuk menghajarnya. Yang ada aku malah dipecat dari statusku sebagai siswa SMA Negeri 1 Manggar ini. Jadi kuurungkan saja niatku untuk menghajar guru ini. “Ayo siapa yang bisa..!, maju kedepan”. Tidak ada satupun yang berani mengangkat tangan untuk maju kedepan mengerjakan soal tersebut. Kalo yang bisa sebenarnya ada, tapi karena sudah takut duluan, jadi tidak ada yang berani. Siapa sih guru yang killer ini? Dia adalah pak Wandi. Guru yang ringan tangan jika ada siswa yang menurut dia “bodoh”, yang tidak bisa mengerjakan soal matematika di papan tulis. Guru yang kadang kalau lagi iseng, selalu mengintai siswa-siswi yang sering datang terlambat untuk melaksanakan Upacara Bendera dan menghukumnya kalau ketahuan, guru yang selalu mempunyai praduga bersalah terhadap semua siswa. Guru yang paling ditakuti disekolahan, sekaligus sedikit tidak disukai oleh para siswa-siswi dan para guru serta wali siswa karena “keanehannya” dalam mengajar. Pukulan penggaris dan bukunya yang entah sudah berapa kali mendarat di kaki ini, aku anggap hanya angin lalu, tidak membuatku ciut dan takut untuk belajar matematika. Setiap pukulan yang dia hujamkan padaku tidak pernah aku laporkan ke orang tua ku. tidak seperti siswa-siswi yang lain. yang jika hari ini mendapat pukulan dari pak Wandi, esok harinya, ayah siswa yang bersangkutan datang mencari guru yang telah memukul anaknya. Betapa amat sangat tidak terima anaknya dipukul oleh orang dan memang harus seperti itulah, menghukum seseorang harus dengan alasan yang jelas, tidak dengan asal “tabok” saja. Saat menjelaskan materi, aku tahu dia bersungguh – sungguh ingin agar siswanya itu bisa. Tapi dia salah dalam cara mengajarkannya. Siswa yang “tidak bisa” seharusnya tidak perlu mendapatkan pukulan. Yang ada, siswanya malah jadi bertambah “tidak bisa”. Selain itu dari segi agama, tidak dianjurkan untuk memukul siapapun. Kecuali yang telah diperbolehkan oleh Allah dan Rasulnya terhadap anak, ketika dia membangkang untuk shalat. Dan itupun yang boleh dipukul hanya kaki, ya, kaki, bukan kepala atau yang lainnya. Ah, Tapi sudahlah, itu sudah berlalu. Dan aku tetap menganggap Pak Wandi guru yang baik buatku. terakhir terdengar kabar, beliau tidak mengajar di SMA lagi. Entah kemana. Mungkin karena banyak siswa yang mendapat pukulan darinya, dan banyak orang tua wali siswa yang mengadukan hal ini ke kepala sekolah dan dinas pendidikan. Mungkin, hanya mungkin. <bersambung> |
| Polling |
|---|


