| Main Menu |
|---|
| 20-Des-84 |
|
|
|
| Written by Administrator |
|
Yups, semua cerita ini dimulai pada tanggal 20 Desember 1984. Puji syukur atas rahmat yang telah diberikan Allah SWT kepadaku dan ibuku, dan semua keluargaku, karena aku telah dilahirkan ke dunia ini dengan selamat, tidak ada kekurangan sesuatu apapun, tidak cacat sedikitpun, dan umak (sebutan untuk ibu orang belitong), - yang katanya saat melahirkan adalah pertaruhan nyawa- pun selamat saat melahirkan aku. Tapi saat kelahiran, aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Karena aku bukan bayi ajaib. Bahkan bayi ajaib pun aku yakin tidak akan tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Aku adalah anak ke-9 dari sembilan bersaudara. 4 wanita berturut-turut yang tertua, selanjutnya 5 laki – laki mengikuti, termasuk aku sendiri yang paling bontot.
Hari demi hari ku lalui, hingga ketika aku berumur 3 tahun, Aku pernah di ajak ke bandung, dan tempat yang paling sering aku kunjungi hampir tiap hari adalah Karang Setra. Sampai ketika suatu hari, aku iseng melintas di jalan raya, yang banyak mobil-mobil besar dan kecil lalu lalang di jalan itu. Maklum kota, Mana ada sih kota yang sepi. Sudah di kota, di pusat kotanya lagi. Layaknya prajurit berani mati, aku seperti tidak sadar akan bahaya mobil-mobil yang akan menabrak. huh nakalnya aku. Alhamdulillah tidak. Jika sampai tertabrak, mungkin cerita ini hanya berakhir sampai di sini saja. Entah apa yang membuat aku setiap saat selalu ingin kesana. Bagus?, tempatnya memang sangat bagus untuk ukuran anak kecil, bulet, gendut, hitam dan kampungan seperti aku. Indah? Karang setra memang indah dan unik, banyak kolam renang yang setiap orang pasti ingin segera menceburkan diri kedalamnya. Ada Naga yang jika anak kecil melihatnya, pasti ingin segera masuk ke dalam perut naga itu, dan segera meluncur ke dalam kolam renang.Kepergian ku saat itu benar - benar membuat khawatir keluargaku. Sampai – sampai umakku pun telah ikhlas dan rela akan kepergianku saat itu. Aku dikira sedang diculik, atau mungkin lenyap dari muka bumi (hyperbola). Padahal ini hanya ulah dari anak kecil yang kurang pengawasan dari orang tua, yang tidak tahu akibat kalau seandainya dia di tabrak mobil, atau diculik, atau lenyap dari muka bumi. Tidak ada 1 anakpun seumur itu yang tahu dengan akibat itu. Aku senang sekali bermain di karang setra, dan kebetulan kakak ku yang paling tua memang bekerja di sana. Yang orang umum jika ingin masuk harus bayar, sedangkan aku, hanya dengan alasan ingin bertemu Kak Linda (Kakak Kandung pertamaku) saja, aku langsung diperkenankan masuk tanpa basa-basi oleh penjaga pintu gerbang saat itu. Berselang beberapa hari kemudian aku dan umak pulang ke belitong, karena saudara – saudara ku yang lainnya sudah rindu dengan umak. Mereka butuh belaian dan kasih sayang dari umak. Walaupun sebenarnya mereka sudah cukup dewasa. Hanya saja satu abang ku Hendi, yang pada saat itu baru berumur 8 tahun. Kira-kira dia kelas 2 SD, yang secara logika dia masih butuh sekali perhatian umak. 4 setengah tahun aku sudah masuk kelas 1 SD, tepatnya di SDN No. 8 Manggar. Itulah sekolah pertamaku. Senang sekali bisa sekolah. Dan itu memang berasal dari hati yang paling dalam. Punya baju seragam merah putih, punya tas baru, sepatu baru, kaos kaki baru, bahkan kadang saat di sekolahpun aku dan teman – teman lainnya main pengantin baru. Ah, anak kelas 1 SD mana yang mengerti akan arti pengantin baru. Aku sendiri mengetahuinya setelah kelas 2 SMA. Di SD ini aku hanya dianggap “anak bawang”. Umurku belum genap 6 tahun. Anak bawang adalah sebutan untuk siswa yang umurnya belum cukup untuk masuk SD, tapi diperbolehkan untuk sekolah dan belajar. Memang aneh peraturan pemerintah yang seperti ini. Tapi apa boleh buat aku hanya rakyat kecil yang dibodohi dan tidak tahu apa-apa. Ketika tahu aku hanya dianggap anak bawang, tidak ada yang menarik saat mendapat julukan ini. Yang membuat aku sedih ketika kenaikan kelas 2, aku masih harus tetap di kelas 1 dengan alasan aku cuma anak bawang. Padahal waktu itu aku mendapat rangking 2 dikelas. Teman – teman yang tadinya sekelas denganku di kelas 1, ketika mereka naik kelas 2, selalu saja mengejek, “huuuuu, ndak naiiiik 3x”. Terus menerus setiap jam istirahat. Siapa yang tidak sedih, walaupun waktu itu umurku boleh dibilang culun, tapi sudah punya emosional dan mengerti akan adanya ketidak adilan. (ciee lagunyaaaa). Bersambung |
| Polling |
|---|



Comments
----------admin----------
Hehehe...selamat membaca
RSS feed for comments to this post