Sekolah Madrasah PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 30 November 1999 00:00

Agama memang nomor 1 untuk manusia, bahkan untuk seluruh umat manusia, baik di kehidupan dunia maupun akherat. Karena itulah bekal untuk hidup di akhirat nanti. Dengan agama, orang bisa hidup rukun dan damai. Sekiranya itulah juga yang diyakini oleh kedua orang tuaku. Dari pada aku setiap pulang sekolah hanya keluyuran saja, sebaiknya dimasukkan saja ke sekolah madrasah.

SD Negeri No.8, selain paginya sebagai Sekolah Dasar Negeri, SD tersebut dipakai untuk sekolah madrasah pada sore harinya. Kelas dimulai pada pukul 15.00. terdiri atas 4 level kelas, kelas 1-4. kebanyakan siswa – siswa dari SD tersebut dimasukkan ke madrasah oleh orang tuanya ketika masih duduk di kelas 2 SD. Jadi selesai sekolah madrasahnya bersamaan juga dengan selesainya sekolah dasar. Banyak sekali pengetahuan agama yang didapat di madrasah tersebut. Bahkan hampir semua ayat – ayat pendek Juz’amma yang aku hapal saat ini, semuanya karena “dipaksa” pada setiap pelajaran kunci ibadah harus maju ke depan satu persatu untuk menghafal 1 buah surat pendek. Jika tidak hafal, disuruh berdiri di depan sambil menghafalkan lagi ayat – ayat yang lupa. Itu merupakan pemicu yang baik untuk kami agar lebih cepat hapal.

Pak Ran, entah siapa nama sebenarnya guru kunci ibadah kami waktu itu. Tapi kami semua memanggil beliau dengan panggilan Pak Ran. Dengan motor honda P100 nya yang kadang-kadang jadi bahan ejekan kami jika beliau baru datang ke madrasah. Huh, Dasar anak – anak.

Selain Pak Ran, ada juga guru – guru yang lain seperti Bu Upik, entah di mana beliau berada sekarang. Beliau adalah guru madrasah yang sampai sekarang aku selalu ingin menangis jika ingat beliau. Saat aku di kelas 3 madrasah, ada salah seorang siswa madrasah, juga teman sekelas ku di SD, Masro’e, bercerita tentang Bu Upik, katanya “kasian lho bu pik, suaminya ga kerja, bu pik sendiri yang ngajar sana – sini buat biayain anaknya sekolah”. Ada rasa iba dalam hati mendengar kata – kata Ro’e (entah benar atau tidak berita itu). Tapi apa boleh buat, kami hanya siswa yang belum tau bagaimana cara membantu kesusahan orang lain. Belum tahu dengan cara apa membantunya. Dengan uang? Sungguh kami juga mengharapkan pemberian dari orang tua. Untuk jajan, kadang aku sendiri sulit. Yang bisa kami lakukan hanya berdo’a semoga bu Upik beserta keluarga selalu dalam hidayah dan rahmatNya.

Ada juga guru di madrasah kami yang suami istri. Pak Muslim dan Bu Neng, beliau berdua merupakan guru yang menjadi simbol madrasah kami dengan ciri khasnya. Pak Muslim sang suami, punya ciri khas tersendiri ketika mengajar. Seperti ada nada bicara yang gampang sekali kami cerna. Berbicara, tetapi beliau seperti melantunkan nada. Bernyanyi?, tidak. Beliau hanya mengajarkan beberapa hal tentang Islam.

Sedangkan istrinya Bu Neng, punya suara yang sangat nyaring ketika mengajar di kelas, yang jika beliau sedang menjelaskan materi, tidak mungkin kami tidak mendengar apa yang dia jelaskan. Betul – betul cocok jadi suami istri, masing – masing punya ciri khas tersendiri dalam mengajar.

Mereka punya seorang putri yang sangat manis sekali. Kira – kira 4 tahun lebih muda dariku. Ketika melihatnya, dan mungkin orang lain melihatnya juga akan berkata dalam hati “kecil aja manis begini, gimana gedenya nanti”. Qori, itulah panggilannya. Terakhir terdengar kabar, setelah lulus SMP, dia meneruskan sekolahnya di pesantren Gontor. Hmmm semoga menjadi istri yang solehah. Sudah cantik, manis, orang tua yang pintar, taat agama pula. Betul – betul istri idaman para pria.

Selain itu, ada juga seorang guru madrasah yang menjadi idola para siswa, dialah Bu Ida. Beliau satu – satunya guru yang belum menikah. Guru madrasah baru. Beliau mulai mengajar, saat kami di kelas 2 madrasah. mengenakan kerudung dan setiap kali mengajar senyum manisnya selalu menghiasi kelas kami.

Ada lagi satu orang guru yang membuat penasaran dalam hati, yang hanya mengajar di kelas 4. atau kelas terakhir dari madrasah ini. Beliau adalah pak Yuslim. Setiap kali melihat beliau di madrasah, aku selalu bertanya dalam hati, mengapa pak Yuslim ini tidak pernah mengajar di kelas 1,2 atau 3. yang dia ajar hanya kelas 4 saja. Ternyata memang di mengajar Bahasa Arab, yang hanya diajarkan di kelas 4.

Hmmm, dalam hati aku ingin sekali belajar dengan Pak Yuslim, karena pelajaran yang beliau ajarkan seperti tantangan buat ku. Bahasa Arab. Setiap kali ada jam kosong di kelas, aku sering mencuri – curi belajar di kelas 4, untuk belajar bahasa arab. Tapi entah mengapa mengikuti pelajaran bahasa arab ini sepertinya sulit sekali, aku tidak bisa menampung apa yang dijelaskan beliau ke dalam otak ku, apa mungkin karena waktu itu belajarnya hanya dari balik jendela?, tapi tidak mungkin, karena beliau telah banyak meluluskan siswa – siswa madrasah yang notabenenya bisa sedikit berbahasa arab. Minimal dasar – dasar dalam berbahasa arab. Sepertinya kemampuanku saja yang belum siap untuk itu. Aku belum punya dasar untuk belajar bahasa Arab. Saat itu aku baru kelas 2 madrasah. yang baru saja diajarkan menulis Arab dan arti kata saja, itu pun masih terbata – bata. Jadinya aku urungkan niatku untuk mencuri – curi belajar dari balik jendela.

Terakhir aku baru tahu, kalau Pak Yuslim ini adiknya Pak Yusril Ihza Mahendra, ketua umum partai bulan bintang, mantan menteri kehakiman dan HAM, juga mantan menteri Sekretaris Negara. Orang yang dengan partainya telah menjadikan Bangka dan Belitung menjadi satu propinsi BaBel, dan juga orang yang telah menjadi kebanggaan orang tuanya. Maju terus Pak Yusril, kami masyarakat BaBel mendukungmu.bersambung

 

Add comment


Security code
Refresh