| Main Menu |
|---|
| Ungkapan Penyesalan |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Tuesday, 30 November 1999 00:00 |
|
Akibat rasa lapar yang sering aku rasakan setiap jam makan siang, aku memutuskan untuk “mencari uang sendiri”. Saat itu aku duduk di kelas 4 SD. Sebagian teman-temanku yang beda tempat sekolahnya denganku, ada yang bekerja sebagai “pemulung” kalau istilah topnya. Akhirnya aku putuskan untuk gabung dengan mereka.Tapi pekerjaan yang aku lakukan waktu itu beda dengan pemulung. Yang kami lakukan ketika itu adalah mencari kawat tembaga, aluminium, dan plastik (plastik yang dimaksud adalah plastik seperti ember bekas dan sejenisnya). Sungguh pekerjaan yang melelahkan tapi menyenangkan karena sambil mencari uang sambil bersuka ria dengan teman. Betul – betul pengalaman yang tak kan pernah terlupakan dalam hidupku.
Hari pertama aku “mulung”, aku dapat setengah kilo plastik. Waktu itu 1 kilo plastik Cuma Rp.100. jadi yang aku dapat 50 rupiah. Hmmm dalam hati, “lumayan buat jajan di sekolah”. Itu adalah uang hasil keringat sendiri, yang setiap orang pasti akan sangat bangga sekali dengan uang itu, terlebih itu adalah pertama kali. Tidak peduli besar kecilnya uang yang didapat, itu adalah lembaran baru ku untuk memulai merasakan dan tau arti hidup ini, dan bagaimana menghadapinya. Sejak hari itu pun aku mulai mencari uang sendiri untuk biaya hari – hari ku disekolah. Karena aku tau kondisi keluarga ku juga tidak mendukung untuk biaya jajan. Hanya cukup untuk biaya SPP sekolah. Nilai raport ku turun drastis, bahkan sekolah madrasah pun terbengkalai gara – gara mulung ini. Tidak bisa tidak, karena jam mulung dengan jam belajar bentrok. Saat itu aku bingung, uang atau agama yang harus dipilih. Ternyata aku salah. Aku memilih mulung saja. Menurutku uang di atas segalanya. Menurutku dalam hidup, uang nomor 1, menurutku tidak ada uang maka tidak bisa hidup. tapi aku salah, salah besar, dengan agama kita akan tahu bagaimana mencari uang yang benar, dengan agama kita tahu bagaimana mendapatkan hidup nikmat, sejahtera lahir dan bathin, dengan agama kita tahu cara mensyukuri hidup dan kehidupan, dengan agama kita tahu tata cara hidup bermasyarakat yang baik, dengan agama kita tahu mana uang yang halal dan yang haram, tentu saja dengan pemahaman agama yang benar, bukan dengan pemahaman dari hasil logika otak manusia yang baru kemarin sore belajar Alqur’an dan hadits, yang masih banyak lagi manfaat dari belajar agama dan itu ternyata mempengaruhi jiwa ku. Aku baru tahu sekarang, bahwa Allah tidak akan membiarkan makhlukNya kelaparan. Burung saja, jika ingin makan, selalu ada saja makanan yang dia dapatkan. Sedangkan manusia, makhluk yang paling sempurna, jika berusaha, tidak mungkin tidak bisa mencari sesuap nasi untuk dirinya. Tidak mungkin dia bisa dikalahkan oleh seorang burung. Seperti kata pepatah, “menyesal kemudian tiada guna”. Jika teringat lagi, aku hanya bisa merenungi masa lalu saja. Padahal waktu itu aku sudah di kelas 3 madrasah yang tinggal 1 kelas lagi harusnya bisa bahasa arab, minimal tahu dasar – dasar yang mungkin suatu saat dengan dasar itu aku bisa belajar sendiri. Jika ingin mengulanginya lagi sekarang, rasanya sulit. Tapi sudahlah, hidup itu sebuah pilihan, jika ada 2 pilihan dan kita memilih pilihan yang salah, maka tanggung sendiri resikonya. Menyesali masa lalu hanya akan membuat seseorang makin terpuruk dalam hidup. anggap saja hidup masih panjang, tidak ada yang tahu kapan akhir hidup seseorang, jadi aku memilih untuk terus melanjutkan apa yang telah aku pilih, dengan segala resiko yang akan aku hadapi di kemudian hari. Bersambung |
| Polling |
|---|


