| Main Menu |
|---|
| Jadi Pemain Rebana |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Tuesday, 30 November 1999 00:00 |
|
Abangku mulai dari 4 laki – laki, semuanya pernah ikut “klub” rebana. Bahasa belitongnya begendang. “Klub” ini sebenarnya adalah kesenian adat dari kalimantan, sebagai ucapan selamat kepada pengantin baru sekaligus memeriahkan acara pernikahan. Kebetulan aku di klub ini, yang satu grup sama abangku Hendi. Jadi dalam keseharianku, mulai dari sekolah (kelas 1 dan kelas 2 SD) aku paling dekat dengan dia. Setiap ada PR, dia yang selalu mengajari. Aku yang tadinya malas ngerjain PR, setiap dibantu olehnya, aku jadi rajin. Dia adalah guru yang baik buatku waktu itu. Balik lagi ke “klub rebana”, ketika itu aku dan abangku beserta teman – teman yang lain dipercaya untuk memeriahkan acara pernikahan di salah satu keluarga. Ketika itu aku (kalau tidak salah kelas 5 SD). Rasanya senang sekali, pengalaman pertama buatku makan siang gratis. Biasanya disetiap acara pernikahan, di masing-masing tempat duduk untuk para tamu di sediakan gelas-gelas kecil yang sudah diisi beberapa puntung rokok di dalamnya. Secara diam-diam, abangku Hendi memasukkan beberapa puntung rokok ke dalam kantongnya. Melihat perbuatannya itu, akupun jadi ikut-ikutan karena sepertinya asik juga. Setelah pemberian ucapan selamat ke pengantin baru selesai, kami pun langsung pulang ke rumah masing-masing. Abangku Hendi pas sampai di rumah, langsung menuju belakang rumah, entah apa yang ingin dilakukannya, tapi yang jelas dia mengajak aku. Sesampainya di bagian belakang rumah, dia langsung mengambil sebatang rokok, dan langsung membakarnya, layaknya orang yang merokok. Aku pun jadi ikut – ikutan juga, karena teringat kalau aku juga tadi mengambil beberapa puntung rokok dari acara pernikahan tadi. Kami pun merokok layaknya orang dewasa yang menikmati asap dengan santai, padahal waktu itu aku masih duduk di kelas 5 SD. Hampir setiap minggu klub rebana kami di undang untuk memberikan ucapan selamat kepada pengantin, dan hampir setiap minggu itu pula kami berdua menghabiskan 5-6 puntung rokok setiap minggunya. Sampai aku menemukan titik jenuh dalam merokok, Ketika itu aku merasakan lidah ku seperti tidak bisa merasakan apa – apa lagi. Ada rasa lidahku tidak bisa merasakan yang lezat. Bahkan digigit pun, masih tidak merasakan apa – apa. Aku yakin ini ulah rokok. Semenjak itu aku tidak pernah merokok lagi sampai sekarang. Karena memang tidak ada gunanya. Bersyukur karena waktu itu lidahku dihilangkan rasa, karena itulah yang membuat aku berhenti merokok. coba kalau tidak, mungkin sampai saat ini aku sudah menjadi perokok yang hebat, yang jika selesai makan siang, selalu menyempatkan diri untuk menghisap asap putih berisi racun pembunuh ternikmat di dunia. Tapi sayangnya abangku Hendi sampai sekarang masih tetap merokok. Ayah ku juga termasuk perokok. Mungkin benar kata pepatah, kacang tidak jauh dari kulitnya. Begitu pula yang terjadi antara ayahku dan Hendi. Ayahku perokok, Hendi juga. Belakangan aku baru tahu, Merokok sama saja menghisap racun. Betapa tidak, itu diakui oleh pembuatnya sendiri, dan di abadikan pada setiap bungkus kemasannya. pembuat rokok menyatakan, “merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”. Tapi kenapa ada saja yang berani mengidap kangker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin itu. Sama saja bunuh diri.hufffhhh..capek deh.. |
| Polling |
|---|


