Jadi Pemulung PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 30 November 1999 00:00

Lain padang lain ilalang. Begitulah layaknya aku. Lain di sekolah lain pula di kampung. Ketika di sekolah aku punya teman main seperti Fitriyandi, Arjoko, MasRo’e, Firdaus dan lain-lainnya. Sedangkan ketika di kampung aku punya teman lain lagi seperti Andri, Acok, Eko, Hariman, Kandai, Kulup, Febri, Dadan dan lainnya. Merekalah teman – teman bermainku seusai pulang sekolah.

Uuchhh, siang itu panas banget kayanya, baru pulang sekolah, haus, lapar, segala macam rasa perut bercampur jadi satu.
“Mak, makan ape sarine?”, tanyaku layaknya seorang bos besar yang minta segera dihidangkan makanan. Aku tidak menyadari kalo umakku sudah tua renta, suka sakit-sakitan, tapi aku malah mengatakan kata-kata yang kurang sopan seperti itu (Maafin aku ya mak?).
“Nih, makan kangkung sama tempe”. Jawab Umak
“Asyiiiikkkkkk, lauk kesukaan aku”. siang itu aku makan dengan lahapnya. kenyang, dan akupun tertidur pulas.

“Saaaaa….diansyaaaa….saaa diansyaaaaa….mulung yookkkk 3x.”
“busyet, dalam hati siapa sih manggil-manggil. orang lagi ngantuk banget juga neeh.. Oiya, mulung”, dalam hati “nyari duit ah”.
Aku segera bergegas lari keluar rumah, dan ternyata Eko sama Hariman sudah menunggu di depan rumah sambil membawa sebuah karung yang dilipat dan diselipkan di belakang punggung mereka.

Aku:Ke arah mana kita hari ini?
Eko:Lalang Atas.
Hariman:beh, kemaren kan udah, masa kesana lagi, tinggal bekas-bekas pulungan kita kemaren. bisa ga dapet duit kita hari ini.
Eko:iya juga sih, jadi kemana kita?,oiya, ke arah dusun kurnia aja. disana belum pernah kan kita?
Aku:ok, berangkat.

Dengan beralaskan sendal jepit, kami bertiga melangkah ke arah dusun Kurnia. Dari dusun kami, kira-kira hanya berjarak 1-2 km. dengan berjalan kaki kira-kira memakan waktu sekitar 1-2 jam. karena kami menyisiri rumah dari tempat “start” sampai menuju ke “finish”nya satu persatu. tentu saja lewat belakang rumah penduduk.

Maliiiiinnngggg 5x…..
Aku:Man, ada apa itu?, kulihat Eko sudah berlari duluan. Hariman dan aku nyantai-nyantai saja sambil tetap fokus mencari kalau-kalau ada kawat tembaga atau aluminium atau kuningan yang berpapasan dengan jalan yang kami lewati.
Aku: Ah, itu kan orang cuman ga seneng aja man sama kita.
Hariman:Iya syah. Eko kan oon. orang kita ga salah. ngapain kabur. kita cuman nyari tembaga, alumunium, kuningan. orang mau marah, marah aja.

Tidak terasa kamipun sudah sampai ke titik finishnya kira-kira sudah jam 4 sore. Dengan masing-masing muatan dalam karung plastik yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Aku:Woi, udah jam 4 lewat nih, balik yok?
Hariman:Ayolah,sekalian jual aja lah nih ya.-sambil mengangkat karung yang dibawanya-.
Eko:tapi aku cuman dapat sedikit nih, tapi ya udahlah, 3rb-an juga lumayan nih.

kebetulan, tempat penadah kawat-kawat tembaga hasil pulungan kami tidak jauh dari tempat “finish” kami tadi. jadi tinggal sekali jalan lagi aja.

Eko: “Man, dapat berapa kau?”
Hariman:”7500 Ko,lumayan buat ngopi malam ini..heheh”, sambil mengipaskan duit yang udah didapatnya ke arah mukanya, ssshhh, ssshhhh, shhhh. kau syah, dapat berapa kau?.
Aku:”Rp.4000 Man. cukuplah buat jajan sekolah besok. kau ko?”
Eko:”Rp.3500. hahah, cuman beda 500 perak kan kau syah, pulang kita?”.
Aku,Hariman:”Ayok…” dengan serempak.

“Huh, nongkrong dulu woi” teriak ku. “baru jam 5 ini, sejam lagi baru maghrib”. baru saja pengen duduk di pinggir jembatan double pertigaan dekat rumah, tiba-tiba terdengar suara umak memanggil,
“Diansyaaaaaa…diansyaaaaaa 3x. suat agik maghriiiiib..”,
“Iyee maaaakk..suat agiiiikkk”. teriakku lagi.
“Baliiikk diansyaaaa…” teriak umak ku lagi.
“Yah, udahlah man, ko, woi semua, balik dulu ya, umak udah manggil-manggil nih.” kataku sama temen-temen satu tongkrongan di double pertigaan, dan aku pun pulang kerumah, mandi, untuk persiapan shalat maghrib.

Hampir setiap pulang sekolah, dari jam 2 siang sampai 1 jam-an sebelum maghrib, biasanya kami selalu mulung di belakang-belakang rumah orang hanya sekedar untuk mencari uang jajan sekolah. Bahkan ketika aku kelas 2 SMP, setiap yang aku dapatkan dari hasil mulung, Rp.1000 aku sisihkan ke umak ku. Dari situ aku terlatih untuk menabung.

 

Add comment


Security code
Refresh