| Main Menu |
|---|
| Festival Band |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Tuesday, 30 November 1999 00:00 |
|
Hampir setiap 2 sampai 3 kali setahun, sekolah di Tanjung Pandan mengadakan festival band tingkat pelajar SMA, dan SMA kami di undang untuk berpartisipasi. Aku dan Andri dan teman-teman band kami yang biasa manggung dengan vocalis Johandi, Basis Asmiardi, Keyboardis Olan, dan Edo rhytem. Mereka semua adalah band sekolahku kecuali Andri, sang melodis. Dia adalah pemain dari STM yang kami sewa “gratis” untuk mengikuti festival ini. tigaaa..empaatt…dug, dug tak, dugdugdug tak3x,…….. “percuma banyak orang bilang ga usah bersedih Begitulah kami hampir setiap 1-2 hari mengulangi lagu yang sama, demi persiapan yang matang untuk hari H festival band nanti. Dari 3 band yang dikirim dari SMA, band kami yang mendapat juara, walaupun cuma juara harapan 1, tapi cukup membuat kami senang karena belum pernah sekalipun band dari sekolah kami yang pernah juara di TanjongPandan, walau hanya juara harapan. Ketika itu Andri punya cita – cita ingin ke jakarta, dan menjadi pemain band terkenal. Setiap kali dia melihat video klip sebuah band, seperti Bon Jovi, Halloween, Metallica, dia sering berkata di depan tv “tunggulah, aku akan menjadi seperti kalian nanti”. Saat itu semangat ku pun ikut berkobar setelah mendengar pernyataan darinya. Menjadi pemain musik terkenal mungkin dianggap konyol oleh sebagian orang, dan menjadikan musik sebagai mata pencaharian utama tidak begitu baik. Karena tidak akan bertahan lama. Popularitas akan musnah seiring bertambah tuanya dunia. Ketika lulus SMA, salah satu pilihanku untuk melanjutkan kuliah adalah jurusan Seni Musik. Tapi di larang oleh orang tua dan saudara - saudara ku. Karena mereka menganggap jika ingin mencari uang di bidang musik, cukup sebagai sambilan saja, jangan yang utama, dan itu memang sepertinya benar dan masuk akal. Pemain musik tidak akan selamanya bermain musik dan menghasilkan uang dari musik itu. Maksimal umur 50-an ke atas, dia sudah harus hengkang dari dunia musik, karena sudah tidak adalagi popularitas pada dirinya. Tapi Andri sepertinya tidak peduli akan hal itu, dia tetap bertekad bisa masuk produksi rekaman dan menjadi terkenal di dunia musik. Andri memiliki pergaulan yang liar, aibon, topi miring, begadang ga jelas, bolos sekolah, minimal seminggu sekali aktivitas itu dia lakukan. Gara – gara kenakalanya itu membuat dia 2 tahun tidak naik kelas. Bahkan di kampung kami, dia seperti menjadi sampah masyarakat. Setiap orang tua yang tau anaknya berteman dengan Andri, selalu dilarang. Aku sendiri kasihan dengannya. Aku berteman dengannya dari kelas 1 SD, tidak menyangka dia akan jadi seperti itu. Kenakalan – kenakalan itu membuat aku menghindar jauh darinya dan mengurangi rasa kompak kami selama ini. Sayang dia kini hanya bisa melimbang timah, atau kadang – kadang menjadi buruh saja di kampung. Padahal dia adalah guru musikku. Dia yang mengajarkan aku main drum. Dia yang melatihku main gitar, dia yang memfasilitasi band agar bisa terus latihan dan selalu melatih skill. Jika ingat waktu kecil ku dengannya, aku ingin sekali kembali ke masa itu, seandainya aku bisa menjauhkan dan menghindarkannya dari kenakalan remaja, seandainya bisa, aku ingin dia menjadi orang yang baik, taat agama, menjadi kebanggaan orang tua dan nenek (semoga Allah merahmatinya) nya, dan jujur dia adalah sahabat sejatiku yang aku sayangi. Yang paling membuat aku sedih dengan dirinya adalah, mulai dari kelas 1 SD, dia tidak tahu arti kasih sayang seorang ayah. Dia tidak pernah mendapatkan gendongan ayah, dia tidak pernah mendapat pukulan ayah, dia tidak pernah mendengar ayahnya bertengkar dengan ibunya dan mungkin dia sekarang tidak kenal lagi siapa ayahnya, bagaimana bentuk muka ayahnya. Entah apa yang menyebabkan ayahnya meninggalkan ibu dan anak – anaknya. Saat aku pulang kampung lebaran kemarin, ketika bersilaturahmi ke rumahnya, kami sedikit mengenang masa lalu, bercerita tentang bermain kembang api setiap malam ke 21 bulan Ramadhan. Kompaknya kami saat itu. Senang, gembira, sedih, bersama kami rasakan, tidak ada beban sedikitpun. Yang bisa dia lakukan saat ini hanya menyesal. Menyesali apa yang sudah dia lakukan dengan dirinya sendiri. Walau dia tau menyesal tidak ada gunanya lagi. Dia tidak bisa mewujudkan cita – citanya sendiri. Sungguh di hati kecilnya dia ingin mewujudkan itu, tapi dia sudah punya tanggungan 2 orang anak, yang tidak boleh dia tinggal. Semoga itu jalan yang terbaik untukmu Andri. Teruslah hidup dan berusaha sampai takdir menentukan lain. Aku hanya bisa mendo’akan yang terbaik untukmu dan keluargamu kawan. |
| Polling |
|---|


